Katagori

Tampilkan postingan dengan label Artikel Dhamma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Dhamma. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2015

Pentingnya Mawas Diri untuk Membentuk Pribadi yang Lebih Baik


Pentingnya Mawas Diri untuk Membentuk Pribadi yang Lebih Baik


Attanā va kataṁ pāpaṁ
attanā saṅkilissati
attanā va akataṁ pāpaṁ
attanā va visujjhati
suddhi asuddhi paccattaṁ
nāñño aññaṁ visodhaye.

Artinya:

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tak dilakukan,
oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri, Tak seorang pun yang dapat menyucikan orang lain.
(Dhammapada, Atta Vagga, syair 165)
          
         Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk  sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Namun, kita ketahui bahwa manusia satu dengan manusia lainnya memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda serta memiliki kelebihan dan kekurangan/kelemahan masing-masing. Hal tersebut sering menyebabkan terjadi pertentangan karena masing-masing individu mempertahankan egonya sendiri tanpa menyadari kelemahan dan kekurangan yang dimiliki. Dalam hal ini menjadi suatu kebiasaan banyak orang adalah lebih suka menutupi kesalahannya sendiri dan menceritakan keburukan orang lain, terutama orang yang tidak disukai.

Kecenderungan orang adalah mudah melihat kesalahan atau kekurangan orang lain, namun sebaliknya sangat sulit untuk melihat kesalahan atau kekurangan dirinya sendiri, seperti peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Kita cenderung menunjuk orang lain sebagai penyebab atas kesalahan yang kita lakukan. Tetapi ada juga yang perlu kita ingat dan renungi tentang filsafat jari telunjuk yakni ketika kita menunjuk orang lain sebagai penyebab, maka satu jari yaitu jari telunjuk menunjuk orang lain tersebut, sedangkan tiga jari lainnya (kelingking, jari manis dan jari tengah) menunjuk ke arah diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu mawas diri, mungkin saja kesalahan itu terjadi karena memang kita yang membuat lebih banyak kesalahan dibandingkan dengan kontribusi dari orang atau pihak lain sehingga kita introspeksi diri terhadap kesalahan-kesalahan kita, sebelum mencari dan menunjuk pada kesalahan orang lain.

Mawas Diri

Mawas diri diartikan melihat (memeriksa dan mengoreksi) diri sendiri secara jujur, introspeksi, kita harus mawas diri agar kita jangan membuat kesalahan yang sama (KBBI ed.2, Balai Pustaka 1993). Secara psikologi, mawas diri diartikan sebagai introspeksi yang pada dasarnya merupakan pencarian tanggung jawab ke hati nurani mengenai suatu perbuatan.Mawas diri merupakan sikap waspada atau berhati-hati dalam bertindak. Sikap mawas diri juga bisa disebut sebagai pembatas atau pengontrol dalam kehidupan sehingga kita tidak akan terjerumus jalan yang salah.

Dalam upaya mawas diri kita melakukan koreksi atau pemeriksaan terhadap diri sendiri. Berkenaan dengan hal tersebut terdapat salah satu sutta yang menjelaskan tentang pemeriksaan terhadap diri sendiri yakni dalam Anguttara Nikaya(X, 51) yang berbunyi:

“…. sama seperti seorang wanita atau pria, yang masih muda dan menyukai perhiasan, akan melihat wajah mereka di cermin yang bersih dan cemerlang atau di mangkuk yang berisi air jernih. Jika mereka kemudian melihat debu atau kotoran, mereka akan berusaha keras untuk menyingkirkannya. Tetapi apabila tidak ada debu atau kotoran yang terlihat, mereka akan merasa senang. Demikian pula ketika pemeriksaan diri sendiri sangat membantu untuk pertumbuhan kualitas-kualitas yang bajik: "Apakah aku sering iri hati, atau sering tidak iri hati? Apakah aku sering mempunyai niat jahat di hatiku, atau sering bebas darinya? Apakah aku sering berkubang di dalam kemalasan dan kelambanan, atau sering bebas darinya? Apakah emosiku sering bergejolak, atau sering bebas darinya? Apakah aku sering berada di dalam keraguan atau sering bebas darinya? Apakah aku sering marah, atau sering bebas dari kemarahan?Apakah pikiranku sering terkotori dengan pemikiran-pemikiran yang tak-bajik, atau sering bebas dari kekotoran batin? Apakah tubuhku sering gelisah, atau sering bebas dari kegelisahan? Apakah aku sering malas, atau sering bersemangat? Apakah aku sering tidak terkonsentrasi, atau sering terkonsentrasi? "Bila dengan memeriksa dirinya seperti ini, seseorang menyadari bahwa dia sering iri hati, penuh niat jahat, lamban, bergejolak, ragu, marah, kotor secara mental, gelisah secara fisik, malas dan tidak terkonsentrasi, maka dia harus mengerahkan segenap semangat dan energinya, daya dan upayanya, serta kewaspadaan yang tak terputus dan pemahamannya yang jernih, untuk meninggalkan semua kualitas yang jahat dan tak-bajik itu.”

Berdasarkan sutta tersebut sebagai implementasinya dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengetahuinya melalui pengalaman kita sendiri, apakah jalan pikiran yang baik atau buruk yang sering muncul? Misalnya ketika orang lain memperoleh keberhasilan/kesuksesan, apakah kita iri hati sehingga kita memiliki niat jahat untuk menyakiti atau sebaliknya, turut berbahagia dan mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Dengan mengetahui jalan pikiran kita sendiri, kita dapat menekan dan mengikis pikiran buruk agar tidak muncul dan mengembangkan pikiran baik yang sudah ada sehingga ucapan dan perbuatan pun menjadi baik.

Memahami Hukum Kamma

Dalam rangka mawas diri, kita sebagai umat Buddha meyakini adanya hukum kamma dan akibatnya bahwa segala sesuatu yang kita lakukan yang didasarkan niat (cetana) maka akan menimbulkan akibat baik atau buruk tergantung perbuatan yang telah kita lakukan. Demikian pula akibat yang kita rasakan saat ini merupakan buah dari niat/kehendak kita sebelumnya. Oleh karena itu, kita tidak perlu menyalahkan orang lain karena kita yang berbuat maka kita yang menerima akibatnya sesuai dengan benih yang ditabur begitu pula dengan buah yang akan dipetik. Hal ini didasarkan pada bunyiDhammapada, Yamaka Vagga, syair 1, sebagai berikut:  Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. Demikian pula yang akan terjadi sebaliknya, maka hendaknya seseorang memiliki pikiran, ucapan dan perbuatan yang baik dan benar sehingga membuahkan kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang lain.

Praktik Meditasi

Dalam agama Buddha kita mengenal meditasi sebagai salah satu ajaran Sang Buddha yang sangat penting dan tertinggi yang dapat membawa kita kepada tujuan tertinggi. Meditasi merupakan salah satu cara untuk mawas diri karena dalam praktiknya kita menyapa, melihat, memeriksa diri kita sendiri dengan menggunakan konsentrasi dan perhatian kita, salah satu macam meditasi adalah Vipassana Bhavana. Vipassana Bhavana adalah meditasi dengan mengamati fisik dan batin kita. Dalam praktik meditasi vipassana kita berusaha untuk menyadari segala sesuatu yang dilakukan seperti saat duduk, berjalan, berbaring maupun waktu makan serta menyadari perasaan dan bentuk-bentuk pikiran yang muncul. Melalui praktik tersebut kita akan mengetahui dan menyadari kecenderungan yang sering muncul, apakah baik atau buruk? Jika kecenderungan yang baik sering muncul, maka kita hendaknya menumbuhkan upaya dan semangat untuk mengembangkannya dan jika sebaliknya, maka kita harus meninggalkannya.  

Belajar dari Seekor Burung

Melalui mawas diri, kita tentunya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, selain belajar dhamma, kita bisa belajar dari orang lain/makhluk lain yang dapat menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik, contohnya adalah kisah tentang seekor burung yang pindah rumah. Ceritanya sebagai berikut: Seekor burung kecil sedang sibuk untuk persiapan pindah rumahnya, lalu bertemu dengan tetangganya. Tetangganya bertanya: “Kamu mau ke mana?” Burung kecil menjawab: “Saya mau pindah ke hutan yang berada di sebelah timur.” Tetangga bertanya lagi: “Di sini kamu hidupnya lumayan baik, mengapa mau pindah?” Burung kecil pun menjawab, “Tidakkah kamu mengetahuinya, bahwa semua orang di sini tidak suka dengan suaraku, mereka mengatakan bahwa suara saya sangat jelek, jadi saya harus pindah rumah.” Tetangganya pun berkata: “Sebenarnya kamu tidak perlu pindah, tapi kamu hanya perlu mengubah suara nyanyianmu. Jika kamu tidak bisa mengubah/memperbaiki suara saat bernyanyi, maka walaupun kamu pindah ke hutan yang berada di sebelah timur atau sebelah manapun. Mereka yang di sana tetap tidak akan suka padamu.” Burung kecil itu pun menangis dan akhirnya menyadari kesalahannya.

Berdasarkan cerita tersebut kita hendaknya tidak selalu menyalahkan lingkungan kita, maupun mengkritik orang lain tidak cocok dengan kita, atau kita tidak cocok dengan orang tertentu. Sekali waktu, kita perlu melihat ke dalam diri sendiri. Pepatah bijak mengatakan: “Betapa bernilainya kesadaran diri”. Oleh karena itu, orang yang tidak bisa introspeksi diri, ke mana pun orang tersebut pergi, dia akan menemukan masalah yang sama, dan akhirnya dia akan kelelahan dan tidak tahu harus pergi ke mana lagi.

Kesimpulan

Dari uraian  di atas dapat kita ketahui bahwa pentingnya mawas diri/introspeksi diri dalam kehidupan sehari-hari. Mawas diri menjadikan kita untuk jujur dalam memeriksa diri kita sendiri, mengenai sifat dan kebiasaan baik maupun buruk serta kelebihan dan kekurangan yang kita miliki sehingga kita berupaya untuk memperbaiki diri dari hal yang buruk dan mengembangkan diri dalam hal yang baik. Selain itu, kita memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita yakni kebahagiaan maupun penderitaan tergantung dari niat/kehendak kita. Dengan demikian, kita tidak menyalahkan dan menjelekkan orang lain. Oleh karena itu, kita melatih diri untuk senantiasa hidup dengan kesadaran dan perhatian terhadap apa yang dilakukan dan dipikirkan sehingga mengubah pola pikir dan kepribadian kita menjadi lebih baik.    

Referensi

Tanpa penulis. “Burung Kecil Pindah Rumah”. http://kumpulankisahteladan.wordpress.com/tag/belajar-introspeksi-dari-seekor-burung-kecil/. (diakses pada tanggal 6 September 2014)

Kitab Suci  Dhammapada. Terj. Phra Rājavarācāriya. Singkawang Selatan: Bahussuta Society. 2013.


Bodhi, Bhikkhu dan Nyanaponika Thera. Petikan Aguttara Nikāya 3 (Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh: Dra. Wena Cintiawati dkk). Klaten: Vihāra Bodhivasa dan Wisma Dhammaguna. 2003.

Membentuk Kepribadian Yang Baik


Membentuk Kepribadian Yang Baik

Attāna ce piya jaññā
Rakkheyya naṁ surakkhitaṁ
Tiṇṇaṁ aññataraṁ yāmaṁ
Paṭijaggeyya paṇḍito

Apabila seseorang mencintai dirinya sendiri, maka ia harus menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Orang bijaksana seharusnya waspada, di dalam tiga periode dalam kehidupannya. (Dhp XII, 157)

Setiap orang adalah individu yang unik karena masing-masing memiliki perbedaan dengan individu lainnya, baik dari segi fisik maupun mentalnya. Perbedaan-perbedaan seperti bentuk mata, telinga, rambut dan sebagainya menjadi ciri khas yang membedakannya dengan individu yang lain, begitu pula dengan watak/karakter atau kepribadiannya. Watak atau kepribadian adalah salah satu unsur yang mempengaruhi kehidupan seseorang, baik secara pribadi maupun hubungan sosial dengan masyarakat. Kepribadian yang baik tentunya memberi pengaruh yang baik bagi diri sendiri dan lingkungan serta menentukan suatu keberhasilan, namun sebaliknya jika seseorang memiliki kepribadian yang buruk. Oleh karena itu, seseorang perlu memiliki kepribadian yang baik dengan membiasakan diri untuk melakukan hal yang baik/positif dan berupaya untuk mengikis dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. 

Kepribadian atau dikenal dengan istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang (Haryanto, 2010). Kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku seseorang yang tampak dalam bentuk tingkah laku yang tampak pada orang lain. Pembentukan kepribadian pada diri seseorang umumnya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam diri dan dari luar diri. Faktor dari dalam diri biasanya dipengaruhi oleh kondisi fisik seperti keadaan gemuk, kurus, berbadan lemah dan sebagainya atau kondisi mental, misalnya intelegensi atau emosionalitas, bakat atau hambatan mental. Sedangkan pembentukan kepribadian yang dipengaruhi oleh faktor dari luar antara lain, yakni kondisi keluarga, masyarakat lingkungan sekitar, dan sifat budaya yang berlaku pada waktu itu serta kondisi alam sekitarnya.

Kepribadian dalam konsep ajaran Sang Buddha adalah membicarakan watak atau Carita. Menurut Sang Buddha bahwa watak manusia pada umumnya terbagi dalam 7 Jenis, yaitu watak yang sangat kuat ada enam jenis dan satu jenis watak campuran. Ketujuh jenis watak atau Carita adalah : Pertama,  Watak memiliki nafsu besar (Raga Carita) adalah mereka yang sensitif dengan nilai-nilai keindahan dan keharmonisan, mudah sekali terpengaruh oleh kecantikan wanita, ketampanan pria, keindahan musik, literatur dan lain-lainnya. Pada umumnya bagi orang yang memiliki watak  Raga Caritta ini adalah mengutamakan pemuasan nafsu indria, pemuasan terhadap keserakahan, mudah tertarik kepada sesuatu yang gemerlapan.  Kedua, Watak penuh dengan kebencian (Dosa Carita) adalah mereka yang mudah tersinggung (walaupun hanya terkena hasutan sekecil apapun), mereka mudah sekali tersinggung, bosan, jengkel, marah, cemburu, iri hati, membenci, dendam. Ketiga, Watak ketidaktahuan (Moha Carita) adalah mereka yang ditandai dengan kurangnya kekuatan kecerdasan. Ia harus diimbangi dengan usaha-usaha belajar serta berguru kepada orang yang mulia/bijak. Keempat, Watak penuh kekhawatiran (Vitakka Carita) adalah mereka yang sering mengalami kecemasan terhadap kesulitan-kesulitan yang mereka alami, mudah berubah prinsip, dan tidak memiliki pendirian yant tetap . Kelima, Watak mudah percaya (Saddha Caritta) adalah tanda dari kurangnya kecerdasan, mudah menerima informasi dan mudah percaya walaupun belum tentu kebenarannya. Keenam, Watak Pandai/pintar/Intelek (Buddhi Caritta) adalah tidak selalu memberikan keuntungan bagi dirinya, bahkan mungkin kelebihan dari mereka menjadi suatu kerugian bagi dirinya apabila tanpa suatu sikap batin yang pantas berdasarkan pada pengetahuan dan pikiran yang benar. Kecerdasan yang telah dimilikinya harus disertai dengan pikiran dan pengertian yang benar untuk menjadi seorang yang  bijak dan ketujuh, Watak campuran/kombinasi (Sabba Caritta) biasanya salah satu dari watak campuran tersebut ada sedikit yang menonjol, walaupun sebentar.

Sesuai dengan watak/carita yang dimiliki seseorang berkembang kepribadiannya menjadi dirinya sendiri dan membentuk kepribadian yang berbeda dengan yang lainnya. Namun demikian, bukan berarti kepribadian tersebut tidak dapat diubah menjadi kepribadian yang lebih baik. Oleh karena itu, dalam upaya memperjuangkan pengubahan kepribadian dalam diri seseorang, maka seseorang harus mampu mengenali diri pribadinya terlebih dahulu dengan benar. Dalam Aguttara Nikāya (X, 51) bahwa pemeriksaan diri sendiri dapat disamakan seperti:

“seorang wanita atau pria, yang masih muda dan menyukai perhiasan, akan melihat wajah mereka di cermin yang bersih dan cemerlang atau di mangkuk yang berisi air jernih. Jika mereka kemudian melihat debu atau kotoran, mereka akan berusaha keras untuk menyingkirkannya. Tetapi apabila tidak ada debu atau kotoran yang terlihat, mereka akan merasa senang. Dan karena keinginan mereka terpenuhi, mereka akan berpikir, "Bagus sekali! Aku bersih!" Demikian pula, para bhikkhu, bagi seorang bhikkhu pemeriksaan diri sendiri sangat membantu untuk pertumbuhan kualitas-kualitas yang bajik: "Apakah aku sering iri hati, atau sering tidak iri hati? Apakah aku sering mempunyai niat jahat di hatiku, atau sering bebas darinya? Apakah aku sering berkubang di dalam kemalasan dan kelambanan, atau sering bebas darinya? Apakah emosiku sering bergejolak, atau sering bebas darinya? Apakah aku sering berada di dalam keraguan atau sering bebas darinya? Apakah aku sering marah, atau sering bebas dari kemarahan? Apakah pikiranku sering terkotori dengan pemikiran-pemikiran yang tak-bajik, atau sering bebas dari kekotoran batin? Apakah tubuhku sering gelisah, atau sering bebas dari kegelisahan? Apakah aku sering malas, atau sering bersemangat? Apakah aku sering tidak terkonsentrasi, atau sering terkonsentrasi?" Bila dengan memeriksa dirinya seperti ini, seorang bhikkhu menyadari bahwa dia sering iri hati, penuh niat jahat, lamban, bergejolak, ragu, marah, kotor secara mental, gelisah secara fisik, malas dan tidak terkonsentrasi, maka dia harus mengerahkan segenap semangat dan energinya, daya dan upayanya, serta kewaspadaan yang tak terputus dan pemahamannya yang jernih, untuk meninggalkan semua kualitas yang jahat dan tak-bajik itu.

Melalui pengolahan batin (pikiran) maka seseorang yang ingin mengubah wataknya, harus dapat mencari obyek yang sesuai agar perkembangan batin dapat meningkat. Bagi seseorang yang berwatak Raga Caritta dan berkeinginan merubah agar berhasil maka seseorang harus mencari obyek yang bertolak belakang dengan obyek yang menimbulkan hawa nafsu, misalnya mengambil obyek yang menjijikan (Mayat membusuk). Secara otomatis bahwa ketika kesadaran yang penuh dengan nafsu maka akan jatuh dan memberikan kesempatan kepada pikirannya untuk dapat terpusat dan hawa nafsu tidak berkembang. Pikiran akan menjadi tenang, penuh kesabaran dan lainnya. Kalau setiap saat dilakukan maka akan menjadi kebiasaan yang baik dan kepribadian yang semula penuh dengan nafsu-nafsu berubah menjadi kepribadian yang sabar, penuh ketenangan dan lainnya. Bagi mereka yang berwatak penuh dengan kebencian (Dosa Carita) maka obyek yang harus diambil adalah tentang warna merah, putih, biru, kuning dan Apamanna empat (Metta atau cinta kasih, Karuna atau belas kasihan, Mudita atau simpati  dan Upekkha atau keseimbangan batin). Bagi mereka yang memiliki watak kebodohan  (Moha Carita) dan mereka yang memiliki watak kekhawatiran (Vittaka Carita) maka obyek yang harus dipakai adalah pernafasan (Memperhatikan proses keluar dan masuknya nafas tanpa memberikan komentar).  Sedangkan bagi mereka yang memiliki watak mudah percaya (Saddha Carita) obyek yang harus diambil adalah perenungan kepada Buddha, Dhamma dan Sangha, Sila, Caga dan Dewata. Untuk mereka yang berwatak Buddhi Carita maka obyek yang harus diambil adalah : Perhatian kepada kematian (Maranasati), Perenungan terhadap ketenangan (Upasamanussati), Perenungan terhadap makanan (Aharepatikulasanna) dan analisa terhadap empat unsur yang membentuk tubuh (Catudhatuvavatthana). Sedangkan orang yang memiliki watak campuran atau kombinasi antara lain dapat mengambil obyek : Zat padat (Pathavi), Zat Cair (Apo), Zat panas (Tejo) dan Zat angin/gerak (Vayo), Ruang (Akasa) dan Sinar (Aloka).

Keberhasilan dalam bermeditasi untuk mengembangkan dirinya agar watak dapat berfungsi menjadi lebih baik, masih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang berada di luar dirinya, seperti tempat, waktu, keluarga, posisi tubuh, rintangan-rintangan batin lainnya. Oleh karena itu, untuk menjadi pribadi yang baik, selain mengembangkan diri dengan melatih meditasi, seseorang juga perlu mulai berucap, bersikap dan bertingkah laku yang baik sebagai cerminan dari pikiran yang baik sehingga kebahagiaan dan kesejahteraan tercapai.

Referensi
Haryanto. 2010. “Pengertian Kepribadian (Personality)”  http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepribadian/ .
suyantopuro.files.wordpress.com/2011/02/profesi-guru.doc‎


Yayasan Dhammadīpa Āramā. Dhammapada. Jakarta. 2005.

Jumat, 05 September 2014

Sungguh Mulia Kehidupan Manusia Saat Ini

Sungguh Mulia Kehidupan Manusia Saat Ini

Kiccho manussapailābho
Kiccha maccāna jīvita
Kiccha saddhammasavana
Kiccho buddhāna uppādo

Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia, sungguh sulit kehidupan manusia, sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar, begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.
(Dhammapada, Buddha Vagga, syair 182)

Alam manusia adalah alam yang paling mulia dari seluruh 31 alam kehidupan karena di alam ini, para Buddha muncul, baik itu Samma-sambuddha, Pacceka Buddha, Savaka Buddha dan para Raja Dunia hanya terlahir di alam ini. Selain itu, alam manusia merupakan alam dimana kita dapat melakukan banyak kebajikan, seperti berdana, mengembangkan sīla dengan baik dan berlatih samādhi serta kita dapat mencapai magga, phala dan Nibbāna jika parami kita mendukung dan usaha dalam melatih meditasi Vipassana dapat kita capai.

Pada masa atau di alam manusia saat inilah merupakan masa yang mulia karena selain menjadi manusia kita dapat mendengarkan Dhamma dan terlahir pada masa Buddhasāsanā, yakni Buddha Gotama. Oleh karena itu, terlahir di alam manusia pada masa ini merupakan berkah kebajikan yang mulia, sebab kita dapat merealisasi kebenaran dan kebahagiaan sejati. Hal ini tergantung usaha dalam memanfaatkan kesempatan ketika berada di alam manusia saat ini, karena terlahir kembali menjadi manusia adalah sangat sulit sedangkan mudah sekali kita terjerumus ke alam yang lebih rendah sehingga kita akan jauh dari Dhamma jika kita lengah dan tidak waspada pada kehidupan saat ini.

1      1.  Sulitnya dapat Terlahir sebagai Manusia

Terlahir menjadi manusia adalah sangat sulit, ini ibarat debu di kuku yang dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Nakhasikha Sutta. “Pada saat sang Buddha berdiam di vihara Jetavana di Savatthi, Beliau datang menghampiri para Bhikkhu dan bertanya kepada mereka, setelah sengaja menempelkan debu di kukunya. Sang Buddha menanyakan pendapat para bhikkhu tersebut tentang debu yang ada di kuku-Nya dengan debu yang ada di tanah. Para bhikkhu itu menjawab bahwa debu yang ada di kuku lebih sedikit dan dapat di abaikan sedangkan debu di tanah adalah lebih banyak. Demikian pula dengan jumlah manusia yang terlahir kembali ke  alam manusia setelah meninggal dunia adalah sedikit seperti jumlah debu yang ada di kuku sedangkan jumlah yang akan terlahir di alam rendah yaitu alam neraka, alam binatang, alam setan dan alam jin raksasa setelah meninggalkan alam manusia adalah sebanyak debu yang ada di tanah” (Kundalābhivamsa, 2007:7).

Alam manusia merupakan salah satu alam kehidupan Bahagia (Sugati Bhava) dan sangat menguntungkan karena kita memiliki enam indera yaitu indera mata, indera telinga, indera hidung, indera lidah, indera tubuh dan indera pikiran sehingga kita mampu melihat, mendengar, mencium, mengecap, menyentuh dan seterusnya serta dapat berlatih Dhamma. Ini adalah masa yang menguntungkan bagi seseorang untuk mencapai Dhamma mulia sesuai dengan kesempurnaan (paramitta)nya. Dalam Dhamma Vibhāga, 2002:134-135 dijelaskan bahwa ada empat macam tingkatan manusia yakni:

  1. Para jenius (ugghaitaññu)
Para jenius menunjukkan macam manusia yang dapat memahami ajaran hanya dengan mendengarkan pokok ajaran. Jenis ini dapat dibandingkan dengan bunga teratai yang telah muncul di atas permukaan air dan pasti akan mekar pada sinar fajar hari yang pertama. Contohnya adalah para bhikkhu yang dengan segera mencapai Penerangan Sempurna setelah mendengar syair-syair yang pertama, seperti Sāriputta Thera dan yang lainnya.

  1. Para intelektual (vipacitaññu)
Manusia jenis kedua dengan tingkatan kebijaksanaan yang lebih rendah adalah disebut intelektual, yang memerlukan keterangan dan uraian lebih jauh sebelum mereka dapat mencapai Penerangan Sempurna. Mereka dapat dibandingkan dengan bunga teratai yang masih berada di bawah permukaan air, sedang menunggu untuk muncul di atas permukaan air pada hari berikutnya.

  1. Mereka yang dapat dilatih (neyya)
Mereka yang dapat dilatih menunjukkan mayoritas manusia biasa (yang tidak begitu bodoh tetapi juga tidak begitu bijaksana). Orang-orang ini memerlukan instruksi-instruksi dan uraian-uraian serta suatu jangka waktu latihan dan praktek sebelum mereka dapat mengharapkan suatu kemajuan atau perkembangan yang nyata. Mereka dapat diibaratkan dengan bunga teratai yang masih berada agak jauh di bawah permukaan air. Mereka memerlukan suatu jangka waktu lebih lama untuk pertumbuhan dan kemunculan mereka di atas permukaan air.

  1. Mereka yang tidak dapat dilatih (padaparama)
Mereka yang tidak dapat dilatih atau tidak ada harapan adalah mereka yang tidak mungkin mengerti atau maju dalam masa kehidupan ini. Mereka dapat mendengarkan ajaran-ajaran atau mencoba untuk mempraktekkan sesuai dengan perintah-perintah, tetapi karena keterbelakangan atau kebutaan bathin mereka, tidak ada hasilnya yang dapat diharapkan. Mereka adalah seperti bunga teratai yang diharuskan untuk dimakan habis oleh binatang air, tidak mempunyai harapan untuk tumbuh di atas permukaan air.

2. Sulitnya Kehidupan Manusia

Menjalani kehidupan sebagai manusia juga merupakan hal yang sulit karena pada kehidupan ini kita berusaha untuk bertahan hidup dan kita pun akan bertemu dengan konflik-konflik atau masalah-masalah yang merupakan bagian dari dukkha itu sendiri. Untuk bertahan hidup sebagai manusia adalah hal yang sangat sulit karena sebagian orang meninggal semasih dalam kandungan, sebagian meninggal dalam hitungan hari, hitungan minggu, atau bulan saja. Ada yang meninggal lebih muda dari kita, seusia kita atau lebih tua dari kita. Oleh karena itu, kita berusaha untuk menjaga diri kita agar dapat bertahan hidup. Untuk itu, seseorang harus makan makanan yang sesuai, memakai pakaian yang sesuai untuk menahan dingin dan panas yang berlebihan, mendirikan rumah untuk melindungi diri kita dari angin, hujan dan cuaca, dan meminum obat yang sesuai.

Selain itu, untuk menjalani kehidupan sebagai manusia kita hendaknya menjalani sila (moralitas) yang baik, yakni dengan menghindari diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berbohong dan menghindari diri dari mengkonsumsi makanan dan minuman yang menyebabkan lemahnya kesadaran. Pelanggaran terhadap sila tersebut dapat mengkondisikan seseorang berumur pendek dan mengakibatkan kelahiran yang berikutnya ke alam rendah. Menjalani kehidupan sebagai seorang manusia dengan pelaksanaan sila yang baik sesungguhnya mengkondisikan rasa aman baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Diri kita sendiri menginginkan kebahagiaan, kesejahteraan dan rasa aman, begitu pula dengan makhluk lain. Oleh karena itu, kita hendaknya memanfaatkan kehidupan saat ini untuk senantiasa melakukan kebajikan dan menghindari hal-hal yang buruk sehingga konflik-konflik dapat kita atasi dan tidak memunculkan konflik baru.
Hal yang perlu kita ingat pula adalah pada kesempatan kehidupan ini kita terlahir sebagai manusia dan dapat menjalani kehidupan manusia, kita juga bertemu dengan ajaran Buddha yang tumbuh subur yang memberi kesempatan bagi kita untuk belajar dan mempraktikkan Dhamma sehingga kita dapat meningkatkan kualitas spiritual kita.

3Sulitnya untuk dapat Mendengarkan Ajaran yang Benar

Selain terlahir menjadi manusia dan menjalani kehidupan manusia adalah sulit ditemukan adalah lebih sulit lagi jika kita bertemu dan dapat mendengarkan ajaran yang benar. Seseorang bisa saja dikondisikan terlahir di alam manusia, namun dengan keyakinan yang salah, seperti tidak percaya dengan adanya hukum kamma dan hukum kebenaran lainnya.

Kelahiran pada masa ini merupakan masa yang sangat menguntungkan karena kita dapat mendengarkan Dhamma ( Ajaran yang Benar) secara langsung dari pembabar seperti bhikkhu di vihara. Apalagi pada saat ini dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita mudah memperoleh dan belajar Dhamma melalui mendengar ceramah Dhamma dari VCD maupun DVD. Selain itu, kita juga dapat dengan mudah memperoleh dan mempelajari Dhamma melalui buku, majalah dan internet. Kemudian di alam manusia ini kita juga mempunyai peluang yang besar untuk melakukan kebajikan dan dibeberapa kesempatan kita dapat berlatih meditasi Samatha dan Vipassana.

   4. Sulitnya Kemunculan Seorang Buddha

    Kemunculan seorang Buddha adalah hal yang paling sulit ditemukan. Namun, pada saat ini sungguh berbahagia kita karena bertemu dengan kondisi dimana kita masih dapat bertemu dengan ajaran Buddha Gotama, walaupun kita tidak dapat bertemu secara langsung dengan Beliau. Terlahir di kehidupan ini merupakan kesempatan yang sangat langka karena terlahir pada masa Buddhasāsanā adalah masa kesembilan yang menguntungkan dimana seseorang dapat mencapai Dhamma yang mulia. Masa kesembilan ini maksudnya adalah untuk mencapai masa kesembilan yang baik, seseorang telah melewati delapan masa yang buruk.

    Delapan masa yang buruk ini telah Sang Buddha jelaskan dalam Aguttara Nikāya 3/60 (Kundalābhivamsa, 2007:19) sebagai berikut:

    1. Ketika seseorang terlahir di alam neraka
    2. Ketika seseorang terlahir di alam binatang
    3. Ketika seseorang terlahir di alam peta
    4. Ketika seseorang terlahir di alam asaññasatta, dimana hanya ada jasmani tetapi tidak adanya mental
    5. Ketika seseorang terlahir sebagai manusia, tetapi di tempat dimana tidak adanya sāsanā
    6. Terlahir sebagai manusia, tetapi memiliki keyakinan yang salah, misalnya tidak ada akibat baik dari perbuatan baik, tidak adanya akibat buruk dari perbuatan buruk
    7. Terlahir sebagai manusia, tetapi memilki cacat jasmani atau tidak cukup pandai untuk membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik
    8. Terlahir sebagai manusia pada masa dimana tidak ada pencerahan Buddha. 

    Kesimpulan

    Meskipun sulit terlahir sebagai manusia dan menjalani kehidupan sebagai manusia serta dapat mendengarkan ajaran yang benar dan bertemu dengan kondisi dimana munculnya seorang Buddha atau berada dalam Buddhasāsanā. Namun, pada saat ini kita bertemu dengan keempat kondisi tersebut. Oleh karena itu, kita hendaknya memanfaatkan kesempatan yang baik ini secara optimal sehingga kita dapat merealisasi kebenaran sejati. Kehidupan saat ini pula merupakan kehidupan yang mulia karena kita mempunyai kesempatan berada dalam Buddhasāsanā yang tumbuh subur dan keyakinan benar bahwa hanya kamma-lah yang merupakan milik pribadi seseorang serta memilki enam indera dalam kesadaran yang berkesinambungan yang merupakan kesempatan yang mengkondisikan tercapainya Dhamma yang mulia.


    Referensi
    Kundalābhivamsa, Ashin. This Noble Life. Terj. Tamiran. Tangerang: Vihara Padumuttara. 2007.
    Vajirananavarosasa, Prince. Dhamma Vibhāga. Yogyakarta: Vidyasena Vihara Vidyaloka. 2002.

    Yayasan Dhammadīpa Āramā. Dhammapada. Jakarta. 2005.

    Jumat, 29 Agustus 2014

    Hidup Bahagia Sesuai Dhamma

            Hidup Bahagia Sesuai Dhamma       
                              
    Dhammaṁ care sucaritaṁ
    Na taṁ duccaritaṁ care
    Dhammacārī sukhaṁ seti
    Asmiṁ loke paramhi ca.

    “Hiduplah sesuai dengan Dhamma, tidak mengikuti cara hidup yang salah. Seseorang yang mengikuti Ajaran Dhamma secara benar akan hidup berbahagia dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang.” (Dhammapada, Loka Vagga, Syair 169)

    Setiap orang pasti mendambakan kebahagiaan karena kebahagiaan adalah hak dan tujuan hidup setiap orang. Meskipun gagasan, penilaian dan pencapaian kebahagiaan itu berbeda bagi setiap orang, baik  dia anak kecil, remaja, orang dewasa sampai tua sekalipun. Misalnya, anak kecil bahagia ketika memperoleh mainan yang baru; seorang remaja bahagia jika mempunyai seorang kekasih, sukses dalam mendapat prestasi di sekolahnya dan memiliki banyak teman. Orang dewasa merasa bahagia jika ia berhasil dalam kariernya, apakah sebagai petani, pedagang, guru, dokter maupun pengusaha; dan orang tua akan merasa bahagia jika melihat anak dan cucunya sukses dan bahagia. Oleh karena itu, akan ada banyak hal yang dilakukan oleh seseorang untuk meraih  kebahagiaan tersebut dan tentunya akan berbeda pula jalan yang dilakukan.

    Secara umum, kebahagiaan sering diartikan sebagai tercapainya apa yang diinginkan atau yang dicita-citakan. Kebahagiaan juga sering diartikan sebagai terpenuhinya kebutuhan materi seperti sandang, pangan, papan dan obat-obatan, serta terpenuhinya kebutuhan akan pendidikan dan hiburan. Namun, kebahagiaan yang sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam hal tercapainya kebutuhan materi saja, melainkan perlunya untuk mengembangkan kebutuhan batin dengan kekayaan mental karena dalam meraih kebahagiaan tersebut tidak terlepas dari kesulitan-kesulitan dan rintangan-rintangan. Maka perlu adanya kesabaran dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dan melatih diri untuk tidak melekat pada apa yang diinginkan.

    Dalam Saṃyutta Nikāya V. 51, yaitu Iddhipādasaṃyutta dijelaskan bahwa ada empat landasan kekuatan batin (Iddhipāda) yang dapat digunakan untuk mencapai kekuatan spiritual. Empat landasan kekuatan batin tersebut terdiri dari chanda (keinginan/kemauan), virya (usaha, semangat), citta (pikiran), vimaṃsā (penyelidikan). Jika keempat hal tersebut dilakukan dengan sempurna maka akan membawa seseorang pada tujuan akhir yang berada dalam kemampuannya.

    1.      Chanda

    Chanda (keinginan) yang dimaksud bukanlah keinginan seperti lobha yang melibatkan keserakahan. Namun, chanda merupakan keinginan untuk berbuat atau keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang terjadi pada makhluk hidup pada umumnya. Keinginan untuk bepergian, untuk makan, untuk mengetahui, untuk  mengerti, semua itu termasuk chanda (Janakābhivaṃsa, 2005:139). Keinginan untuk berbuat baik seperti, keinginan untuk berdana, menjalan sila dan meditasi juga merupakan Chanda.
    Chanda juga diartikan sebagai kegembiraan dan kepuasan di dalam mengerjakan hal-hal yang sedang dikerjakan. Chanda merupakan kondisi awal yang perlu dimunculkan dalam upaya meraih kebahagiaan baik kebahagiaan lahir maupun batin. Misalnya, seorang pelajar yang ingin meraih prestasi. Ia tentunya terlebih dahulu memunculkan keinginannya untuk belajar. Ia juga harus gembira dan merasa puas ketika belajar. Hal tersebut dapat membangkitkan semangat dan konsentrasi dan merupakan kunci keberhasilan yang pertama. Selain itu, dengan adanya kegembiraan dan kepuasan seseorang tidak akan merasa kecewa, walaupun apa yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan karena ia sudah berbuat semaksimal mungkin. Namun, kecenderungan dari seseorang adalah merasa gembira dan puas kalau sudah berhasil. Hal tersebut yang mengakibatkan munculnya kekecewaan atau penderitaan.

    2.      Viriya

    Setelah adanya keinginan untuk mengerjakan sesuatu tentunya juga seseorang harus    berusaha dengan penuh semangat untuk merealisasikan tujuannya. Seseorang yang bersemangat tentunya akan memperoleh kesuksesan dan kesejahteraan baik yang bersifat duniawi maupun kesuksesan spiritual. Dalam hal kesuksesan spiritual contoh yang paling baik adalah guru agung kita Buddha Gotama. Beliau berjuang dengan penuh semangat sejak menjadi calon Buddha (bodhisatta) sampai Beliau wafat (parinibbāna). Setelah menjadi Buddha, viriya/semangat Beliau tidak pernah padam, Beliau mengajar selama 45 tahun dengan hanya melewatkan waktu untuk tidur selama 1-2 jam perharinya. Beliau pernah bersabda: “Vāyamethewa puriso; na nibbindeyya paṇḍito.” (Manusia sejati harus selalu tekun; manusia bijaksana tidak pernah malas) (Janakābhivaṃsa, 2005:136).

    Orang bijaksana memuji ketekunan
    Dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat;
    Karena orang yang bijaksana dan tekun
    Akan memperoleh manfaat ganda:
    Kesejahteraan di sini dan kini
    Serta kesejahteraan dalam kehidupan yang akan datang.
    Dan karena telah mewujudkan kebajikan,
    Orang bijaksana itu disebut guru.
    (Itivuttaka I, 23)

                Ada empat usaha atau daya upaya yang harus dilakukan dengan penuh semangat dan ketekunan untuk memperoleh kebahagiaan. 1) Usaha untuk menghindari hal-hal yang buruk yang belum muncul. 2) Melenyapkan hal-hal buruk yang sudah muncul. 3) Usaha untuk memunculkan hal-hal baik yang belum muncul. 4) Mengembangkan hal-hal baik yang sudah muncul.

    3.      Citta

    Citta berarti pikiran yang memperhatikan dengan sepenuh hati terhadap hal-hal yang sedang dikerjakan tanpa membiarkannya pergi begitu saja. Citta dapat diartikan pula sebagai pikiran yang penuh dengan kewaspadaan. Mengembangkan kewaspadaan akan membuat kita jauh dari kelengahan dan kecerobohan dan sesuatu yang diperjuangkan akan dapat direalisasikan. Citta juga perlu diimbangi dengan viriya atau semangat dan sebaliknya karena untuk mempercepat dan memaksimalkan hasil yang diharapkan. Sebagai contoh adalah siswa Sang Buddha, yakni Y.M. Moggalana dan Y.M. Ananda. Y.M. Moggalana ketika bermeditasi memiliki citta yang terlalu kuat sedangkan Viriya-Nya lemah sehingga menyebabkan Beliau mengantuk. Namun, setelah mendapat arahan dari Sang Buddha, Beliau mencapai arahat. Sebaliknya, Y.M. Ananda terlalu bersemangat dan bermeditasi seharian tanpa beristirahat. Selain itu, Beliau memikirkan tentang akan diadakannya konsili pertama dan Beliau harus mencapai Arahat. Kegelisahannya itu mengakibatkan konsentrasi-Nya melemah dan Beliau memutuskan untuk beristirahat sambil berlatih kembali dengan penuh perhatian. Ketika itu pula sebelum kepala menyentuh bantal dan kakinya belum meninggalkan lantai, Beliau mencapai Arahat. Beliau pun dapat menghadiri konsili tersebut dan mengulang Dhamma.

    4.      Vimaṃsa

    Kondisi yang terakhir dari Iddhipāda adalah vimaṃsā atau penyelidikan yakni merenungkan dan menyelidiki alasan-alasan di dalam hal-hal yang sedang dikerjakan. Vimaṃsā dapat diartikan pula sebagai evaluasi dari apa yang sudah dilakukan, apakah baik atau buruk. Seseorang yang melakukan evaluasi akan menemukan alasan-alasan atau faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dan keberhasilan. Kegiatan dari evaluasi ini dapat kita ibaratkan, seperti seorang guru yang mengevaluasi murid-muridnya melalui ulangan. Dari hasil ulangan tersebut dapat dilihat bahwa guru tersebut apakah berhasil atau gagal dalam proses pembelajaran. Faktor keberhasilan dan kegagalan apakah berasal dari gurunya yang mungkin dari metode pembelajarannya atau muridnya yang rajin atau yang kurang memperhatikan. Oleh karena itu, seorang guru yang mampu melakukan penyelidikan, tentunya akan menemukan faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan. Maka ia akan mengembangkan faktor-faktor yang baik dan meninggalkan yang buruk.

    Kesimpulan

    Jadi, dapat disimpulkan bahwa seseorang  menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan baik sekarang maupun yang akan datang, harus dengan cara yang benar sesuai Dhamma: dengan memunculkan keinginan yang baik (chanda),  mengembangkan usaha yang disertai semangat untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat negatif dan mengembangkan hal-hal yang positif baik melalui tindakan, ucapan maupun pikiran. Kondisi yang juga perlu dikembangkan adalah citta (perhatian) terhadap apa yang dilakukan serta kita perlu melakukan penyelidikan dan evaluasi (vimaṃsā) sehingga kita dapat mengetahui apa yang perlu dikurangi dan kita tinggalkan dan apa yang perlu dilakukan dan kita kembangkan dan hal ini tentunya akan menambah kebijaksanaan kita sehingga hidup kita sukses dan bahagia secara lahir maupun batin.

    Referensi

    Bodhi. Saṁyutta Nikāya. Jakarta Barat: DhammaCitta Press. 2010.
    Janakābhivaṁsa, Ashin. Abhidhamma in Daily Life. Terj. Ashin Jinorasa. Tanpa kota: Yayasan Penerbit Karaniya. 2005.
    Jotidhammo (Ed). Itivuttaka. Bandung: Lembaga Anagarini Indonesia. 1998.
    Paññāvaro, Sri. Bahagia dalam Dhamma 3. Makassar: Keluarga Buddhis Brahmavihāra (KBBV) Makassar. 2007.
    Vajirananavarosasa, Prince. Dhamma Vibhāga. Yogyakarta: Vidyasena Vihara Vidyaloka. 2002.
    Yayasan Dhammadīpa Āramā. Dhammapada. Jakarta. 2005.
                                                                                                   

    Artikel Dhamma:
    Bahagia Tanpa Keserakahan

    Bahagia Tanpa Keserakahan

    Bahagia Tanpa Keserakahan

    Susukhaṁ vata jīvāma
    Ussukesu anussukā
    Ussukesu manussesu
    Viharāma anussukā.

    Sungguh bahagia kita hidup terbebas dari keserakahan,
    di antara orang-orang yang serakah.
    Di antara manusia yang serakah
    kita hidup tanpa keserakahan.
    (Dhammapada, Sukha Vagga, syair 199)

    Setiap orang pasti membutuhkan pakaian, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan agar dapat bertahan hidup sehingga dapat menjalankan aktivitas dengan baik. Seseorang harus makan makanan yang sesuai untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap sehat, memakai pakaian yang sesuai untuk menahan dingin dan panas yang berlebihan, mendirikan rumah untuk melindungi diri dari angin, hujan dan cuaca yang buruk, dan meminum obat yang sesuai ketika sakit. Selain itu, sebagai manusia biasa pasti memiliki keinginan untuk memiliki sesuatu, seperti kekayaan, kedudukan dan sebagainya. Ini merupakan keinginan yang wajar. Namun, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa di dalam dirinya masih diliputi oleh kekotoran-kekotoran batin, salah satunya adalah keserakahan. Kekotoran batin inilah yang merupakan keinginan yang tidak wajar karena seseorang dapat melakukan tindakan buruk untuk mencapai keinginannya sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

    Secara umum, keserakahan sering disebut sebagai ketamakan atau memiliki keinginan yang berlebihan dan tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Dalam agama Buddha, keserakahan dikenal dengan istilah lobha yang secara psychology berarti terikatnya pikiran oleh objek-objek. Objek-objek yang dimaksud adalah objek-objek yang menyenangkan karena adanya kontak dari mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran. Seseorang yang memiliki keserakahan (lobha) terhadap kesenangan-kesenangan indra, harta, kedudukan dan sebagainya. Misalnya, seseorang yang sudah memiliki kekayaan, namun masih mempunyai keinginan untuk merebut harta orang lain karena tidak adanya kepuasan pada kepemilikan diri sendiri. Ia akan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya termasuk melakukan tindakan yang tidak baik seperti mencuri, merampok dan korupsi yang merupakan peristiwa yang sering kita lihat dan kita dengar melalui media massa. Ketika keinginan tidak tercapai bagi orang yang memiliki keserakahan dan kemelekatan maka yang akan timbul adalah kesedihan dan kekecewaan. Namun, jika keinginannya tercapai, ia akan dirundung kekhawatiran akan kehilangan. Berbeda halnya dengan keinginan atau kemauan yang baik dan tulus seperti keinginan untuk berdana, belajar Dhamma, menjalankan sila dan meditasi merupakan faktor mental yang baik yang dilakukan demi kebaikan itu sendiri.  Kebaikan-kebaikan yang akan membawa pada kebahagiaan sejati.

    Memang kita ketahui bahwa, keserakahan adalah kekotoran batin yang sulit dilenyapkan secara total. Namun, bagi seseorang yang belum mencapai kesucian dapat menekan kemunculannya atau mencegahnya untuk berkembang jika keserakahan (lobha) itu sudah muncul. Maka, yang perlu dilakukan adalah menggunakan sati (perhatian, kewaspadaan, kesadaran), berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan, merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan pañña (kebijaksanaan), membangkitkan hiri (malu berbuat jahat) dan ottapa (takut akan akibat dari perbuatan jahat), mengembangkan Dhamma yang berlawanan dengan lobha, seperti berdana (AjitamanavasaSolasa panha).

    1.      Menggunakan sati

    Lobha atau keserakahan tidak akan muncul jika tidak adanya kondisi yang sesuai dan pada seseorang yang memiliki sati (perhatian yang murni, kewaspadaan, kesadaran). Oleh karena itu, seseorang hendaknya memilki perhatian, kewaspadaan, kesadaran terhadap apa yang dilihat, didengar, dicium (bau), dikecap, disentuh dan yang dipikirkan. Sati yang dimaksud di sini juga merupakan perhatian yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat positif, seperti mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian agar bisa mengingatnya dan pada saat bermeditasi seseorang  berkosentrasi secara mendalam supaya tidak kehilangan objek meditasinya. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya tindakan buruk sebagai akibat dari pikiran yang tidak baik, salah satunya adalah pikiran yang disertai dengan keserakahan.

    2.      Berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan

    Berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan adalah berusaha untuk merasa puas (santuṭṭhī) dengan apa yang dimiliki, hidup sederhana dan berkecukupan tanpa harus memiliki banyak keinginan. Keinginan yang selalu dituruti sebagai sifat dari keserakahan adalah ibarat kita haus dan meminum air garam, maka rasa haus itu tidak akan pernah hilang. Kita dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan dengan membatasi keinginan-keinginan kita. Perasaan puas dan bahagia ini akan mengkondisikan pikiran menjadi damai dan tenang. Namun, bila kita serakah dan selalu ingin lebih akan mengakibatkan pikiran menjadi kacau dan tidak sehat. Tidak lagi mengenal kedamaian. Oleh karena itu, Sang Buddha mengajarkan kepada para bhikkhu untuk menjalankan kehidupan dengan disiplin dari yang mereka dapatkan sebagai dana.

    3.      Merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan pañña

    Sebagai manusia biasa kita tentunya masih mempunyai keinginan. Namun, kita dapat mengoreksi keinginan tersebut. Apakah merupakan keinginan yang wajar, bermanfaat dan cara yang akan digunakan untuk mencapai keinginan itu adalah cara yang baik sehingga tidak merugikan baik diri sendiri maupun orang lain  ataukah sebaliknya. Keinginan menjadi kaya misalnya, di mana Sang Buddha menyatakan keinginan tersebut sebagai salah satu keinginan yang wajar dari manusia, yakni dalam Aṅguttara Nikāya II 65. Maka, bagi orang yang bijaksana akan mengetahui apa yang baik dilakukan dan apa yang tidak baik untuk dilakukan. Ia akan melakukan usaha yang benar, bermata pencaharian yang benar untuk mencapai keinginannya. Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki kebijaksanaan dalam mencapai sesuatu. Ia hanya akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, seperti syair Dhammapada berikut: Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh, tetapi tidak dapat menggoda ia yang ingin mencapai pantai seberang (Nibbana). Keserakahan pada kekayaan dapat menghancurkan diri sendiri dan orang lain (Taṇhā Vagga, 355).

    4.      Membangkitkan hiri  dan ottapa

    Hal lain yang juga dapat menekan kemunculan lobha adalah membangkitkan hiri dan ottapa yang sering kita kenal dengan pelindung dunia. Seseorang yang memiliki perasaan malu untuk melakukan perbuatan buruk, maka ia akan menjalankan sīla dengan baik dengan menghindari tindakan-tindakan buruk, seperti mempraktikkan Pancasīla Buddhis. Seseorang yang memiliki hirī adalah orang yang menghargai martabat dan kehormatannya. Perasaan takut akan akibat dari perbuatan buruk merupakan wujud dari keyakinan akan hukum kamma bahwa segala bentuk tindakan baik melalui pikiran, ucapan maupun perbuatan yang didasari oleh pikiran yang tidak baik akan mangakibatkan penderitaan. Demikian pula dengan segala bentuk tindakan, baik melalui pikiran, ucapan maupun perbuatan yang didasari oleh keserakahan akan membawa pada penderitaan baik pada saat sekarang maupun yang akan datang. Misalnya, seseorang yang melakukan tindakan buruk karena keserakahannya, sebagai akibatnya, ia tidak akan dihormati orang, ia bisa masuk penjara dan bahkan pada kehidupan selanjutnya ia akan terlahir di alam rendah.

    5.      Mengembangkan Dhamma yang berlawanan dengan lobha

    Praktik kebajikan seperti berdana merupakan lawan dari lobha yang dapat menekan kemunculan dan berkembangnya lobha tersebut. Membiasakan diri untuk berdana merupakan latihan untuk melepas apa yang kita miliki, untuk mengurangi kemelekatan yang membelenggu batin, untuk meringankan penderitaan orang lain. Berdana juga akan lebih bermanfaat jika ditujukan kepada orang yang tepat, orang yang membutuhkan dan diberikan pada waktu yang tepat, serta diberikan dengan ketulusan dan rasa hormat. Berdana dapat dilakukan dalam bentuk materi, tenaga, nasihat-nasihat, motivasi, pengetahuan, ide-ide atau gagasan-gagasan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi keegoan kita dan mengembangkan kepedulian kita terhadap orang lain serta untuk mengikis sifat keserakahan.

    Kesimpulan

    Keserakahan merupakan kekotoran batin yang menjadi sumber penderitaan. Keserakahan (lobha) merupakan kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga membuat pikiran selalu merasa lapar, serakah dan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Keserakahan muncul ketika bertemu dengan kondisi yang sesuai, yakni adanya kontak antara indra-indra dengan objek-objek yang menyenangkan. Keserakahan sulit dilenyapkan, namun dapat kita tekan kemunculannya dan perkembangannya serta kita dapat mengikisnya dengan satisantuṭṭhīpaññahiri dan ottapa serta berdana. Oleh karena itu, kita hendaknya mempraktikkan Dhamma dengan baik sehingga kita dapat melenyapkan keserakahan dan kebahagiaan sejati dapat kita capai.

    Referensi
    “Tiga Akar Kejahatan” http://indonesiaindonesia.com/f/34585-universal-intisari-agama-buddha/(29 Juni 2013)
    Janakābhivaṁsa, Ashin. Abhidhamma in Daily Life. Terj. Ashin Jinorasa. Tanpa kota: Yayasan Penerbit Karaniya. 2005.
    Sarada, Weragoda. Mahā Maṅgala Sutta (Berkah Utama). Jakarta: Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. 1997.
    Yayasan Dhammadīpa Āramā. Dhammapada. Jakarta. 2005.

    Artikel Dhamma:
    Hidup Bahagia Sesuai Dhamma